Terkait Kenaikan Harga BBM

Tahukah Anda mengapa negara-negara Barat dan Asia Timur bisa maju sementara Indonesia tertinggal? Itu karena Indonesia langsung menjual begitu saja bahan-bahan baku seperti padi, kayu, gula, dll, sementara negara-negara maju dengan industrinya mengolahnya menjadi barang-barang jadi sehingga terjadi pertambahan nilai. Barang-barang jadi itu lalu dijual ke Indonesia dengan harga lebih mahal. Analogi sederhananya, penebang kayu menjual kayu yang baru ditebang, dijual langsung ke produsen, lalu produsen itu dengan usahanya mengolah kayu itu menjadi furnitur mewah yang kemudian dijual dengan harga berkali-kali lipat ke penebang kayunya. Ya pantas saja si produsen itu lebih kaya dari si penebang kayu kan?

Maka dari itu, kalau Indonesia mau maju harus berubah menjadi negara produsen, dan untuk itu Indonesia harus siap menginvestasikan APBN untuk mencapai hal tersebut. Salah satunya dengan pembangunan infrastruktur yang penting seperti jalan raya, pelabuhan, atau bandara, karena kalau jalur transportasinya hancur biaya transportasi tinggi dan industri susah maju. Atau bisa juga untuk pendidikan, supaya Indonesia punya tenaga ahli dalam bidang ekonomi, teknik industri, dll, untuk menopang upaya industrialisasi. Selain itu APBN bisa digunakan untuk insentif-insentif produktif seperti modal usaha supaya si penebang kayu dapat menjadi produsen juga, atau insentif peningkatan kualitas bahan baku (seperti bibit unggul, fertilizer, dll) agar nilai tambahnya meningkat dan supaya keunggulan komparatif Indonesia dalam bidang pertanian bisa dimaksimalkan. Hasil-hasil produk jadi perlu diorientasikan untuk ekspor. Pembangunan model seperti ini telah dilakukan oleh Singapura, Korea Selatan, Taiwan, dan Malaysia, dan kita tahu sendiri seperti apa hasilnya.

Yang terjadi sekarang dengan subsidi BBM adalah negara mensubsidi ratusan triliun untuk aktivitas konsumtif terhadap BBM. Padahal BBM sendiri langka, di Indonesia sendiri cadangannya sudah mau habis, dan untuk cadangan dunia mungkin pada akhir abad ini akan habis. Kalau nanti habis karena subsidi terus mendorong aktivitas konsumtif sementara negara ini masih dieksploitasi sebagai penghasil bahan baku dan tidak punya energi alternatif, negeri ini akan hancur. Maka dari itu memang sudah sepatutnya subsidi pendorong aktivitas konsumtif dihapus dan digantikan untuk aktivitas produktif seperti pembangunan infrastruktur, industrialisasi, dan investasi energi alternatif. Efek jangka pendeknya mungkin harga-harga akan naik, dan tugas pemerintah dengan sistem jaminan kesejahteraan untuk menjamin hak-hak dasar rakyat akan sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan (yang telah dilakukan dengan baik oleh Presiden Jokowi dengan kartu kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan). Tapi jangka panjangnya penghematan bisa dipakai untuk hal yang bisa membuat Indonesia menjadi negara maju. Presiden Jokowi telah punya rencana pengalihan subsidi yang menurut saya tepat untuk memajukan Indonesia (bica dibaca di //jglo.be/ipL1), hanya perlu kita awasi bersama-sama agar tidak dikorupsi.

Kematian Meritokrasi Kedaerahan

Bagi saya, manuver Koalisi Merah Putih untuk mengakhiri pilkada langsung itu sesungguhnya menandai kematian meritokrasi kedaerahan. Sepuluh tahun setelah reformasi, Indonesia sebenarnya hampir saja membuat gebrakan baru dalam sistem politik dunia: baru pertama kali dalam sejarah Indonesia, rakyat dapat memberikan kepercayaan kepada kepala daerah berdasarkan kapabilitas mereka, dan setelah mereka terbukti memiliki sepak terjang yang baik, mereka dalam sekejap menjadi populer dan kemudian digadang-gadang untuk menjadi pemimpin nasional. Di Indonesia tokoh-tokoh ini meliputi Joko Widodo, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Tri Rismaharini, dan Ridwan Kamil. Jokowi telah berhasil mengubah Solo dari kota yang dipenuhi kejahatan dan ekstremisme agama menjadi kota budaya dan wisata dengan branding yang kuat. Ahok telah menggratiskan kesehatan untuk semua warga Belitung Timur. Saat memimpin Jakarta, mereka juga berhasil membuat banyak sekali gebrakan baru, seperti merapikan Tanah Abang, mengeruk Waduk Pluit dan Ria-Rio, memulai pembangunan MRT, reformasi birokrasi, dan masih banyak lagi. Sementara itu, Risma berhasil menghijaukan Surabaya dengan taman-taman yang hijau, modern, dan terbuka untuk umum. Ridwan Kamil pun sedang menjalankan proyek-proyek inovatifnya, termasuk proyek cable car dan transportasi massal yang sangat dibutuhkan warga Bandung. Legitimasi kepemimpinan tokoh-tokoh tersebut sangat bergantung pada sepak terjang mereka, dan apabila mereka mau naik jabatan atau dipilih kembali mereka harus menuntaskan semua program yang telah mereka janjikan. Karena kalau tidak, rakyat dapat memutuskan untuk tidak memilih mereka. Kepala daerah lain pun apabila ingin naik kariernya atau dipilih lagi harus dapat menjalankan program-program inovatif dan progresif yang memecahkan masalah. Yang akan menilai keberhasilan atau kegagalan mereka adalah rakyat sendiri. Inilah yang saya sebut meritokrasi kedaerahan.

Fenomena ini tentu tidak universal di Indonesia. Provinsi seperti Banten dan Lampung masih dikuasai oleh dinasti penguasa yang korup. Namun, baru kali ini dalam sejarah Indonesia, beberapa daerah memilih pemimpin berdasarkan kapabilitasnya, dan setelah mereka terbukti berhasil dalam kepemimpiannya mereka dalam sekejap mampu menjadi pemimpin nasional yang menggebrak tatanan lama yang ditetapkan oleh para oligark korup. Sebut saja Jokowi yang berada di luar lingkar elit di Jakarta, tetapi dapat terpilih menjadi Presiden Indonesia. Meritokrasi kedaerahan yang ditopang secara demokratis tidak saja hanya mampu menyelesaikan masalah di daerah, tetapi juga melahirkan bibit-bibit pemimpin baru yang dipilih berdasarkan kapabilitas dan tidak memiliki ikatan atau kepentingan apapun dengan elit-elit lama yang korup.

Sayang sekali semua ini sudah dimatikan oleh RUU Pilkada oleh DPRD kemarin, yang jelas sekali merupakan upaya para oligark yang merasa kekuasaannya terancam untuk menghentikan arus kemunculan pemimpin-pemimpin baru ini.

Mengkritik Bias Kemanusiaan Muslim Indonesia

Ketika Konflik Gaza meletus pada 8 Juli 2014, kaum Muslim di Indonesia spontan melayangkan kecaman pada Israel dan menyerukan gerakan untuk menyelamatkan Palestina. Gerakan-gerakan ini memiliki pola tersendiri. Demonstran-demonstran serentak turun ke jalan dan menyerukan jihad melawan Israel. Seruan memboikot Israel mengudara, walaupun targetnya seringkali salah sasaran (seperti McDonald atau KFC, yang merupakan franchise yang dimiliki orang Indonesia). Pemuka agama di masjid dengan berapi-api mengutuk Israel sekeras-kerasnya. Gambar-gambar gedung yang hancur atau anak-anak yang menangis pun disebarkan di media massa dan media sosial dengan maksud untuk membangkitkan emosi orang yang melihatnya, walaupun beberapa di antaranya merupakan hasil rekayasa atau gambar dari konflik di tempat lain yang dibuat seolah terjadi di Palestina. Begitu pula berita-berita palsu seperti tentara Israel menginjak anak kecil (yang ternyata gambar ritual di India), atau orang Israel bermain bulu tangkis di Masjid Al-Aqsa (padahal itu gambar masjid di Turki), seolah-olah berbohong itu tidak apa-apa untuk jihad. Hal ini tentunya sangat efektif dalam membakar gelora amarah Muslim Indonesia, sampai-sampai Presiden terpilih Joko Widodo diminta untuk menyumbangkan sisa dana kampanyenya kepada Palestina, meskipun di Indonesia sendiri masih banyak sekali yang harus dibenahi.

Terlepas dari perdebatan dikotomis yang terjadi (seperti pihak mana yang benar atau salah), yang patut disorot di sini adalah tanggapan Muslim Indonesia yang sangat berapi-api dan meledak-ledak, yang tidak hanya terjadi sekali saja. Saat kerusuhan antara orang Burma dan Rohingya di negara bagian Rakhine meletus, hal serupa juga terjadi. Demonstrasi pecah, pemuka agama menggelegar di masjid, dan media sosial dipenuhi gambar-gambar palsu untuk membangkitkan amarah. Akibatnya, Muslim Indonesia pun terprovokasi, sampai-sampai ada yang menyerang klenteng Buddha (yang merupakan kegoblokan absolut karena sama sekali tidak ada hubungannya) dan berdemonstrasi dengan spanduk “WE WANT TO KILL MYANMAR’S BUDDHIS”.

Begitu militannya pembelaan terhadap Rohingya hingga ada pesan seperti ini

Muslim Indonesia yang terlibat dalam pergerakan semacam ini biasanya mengklaim bahwa mereka melakukannya demi kemanusiaan dan hak asasi warga Palestina atau Rohingya atau siapapun yang mereka bela. Tentu membela hak asasi manusia adalah suatu hal yang sangat penting demi kebahagiaan dan kesejahteraan manusia. Namun, mengapa hal serupa tidak pernah disuarakan saat Omar Al-Bashir dengan janjaweednya membantai warga di Darfur, atau saat suku Kurdi ditindas dan berusaha dimusnahkan dengan senjata kimia oleh Saddam Hussein? Tidak perlu jauh-jauh, di Indonesia sendiri, telah terjadi pelanggaran HAM berat yang serupa dengan yang dialami oleh orang Rohingya, yaitu pengusiran Syiah di Sampang. Sama seperti kaum Rohingya yang terusir akibat kerusuhan dan terpaksa hidup di kemah pengungsi, begitu pula Syiah Sampang yang sampai hari ini masih belum dibolehkan pulang. Malahan darah mereka dianggap halal untuk ditumpahkan, seperti yang diserukan oleh pendiri arrahmah.com Abu Jibril. Bila mereka memang sungguh peduli pada kemanusiaan dan hak asasi semua manusia, mengapa mereka gagal menyerukan gerakan seperti yang mereka lakukan untuk Palestina dan Rohingya?

Kekejaman di rumah sendiri gagal dikecam: Peristiwa Cikeusik yang tidak lain adalah pogrom terhadap Ahmadiyah

Selain itu, tindak tanduk Muslim Indonesia yang mengecam kejadian-kejadian tersebut tampak sekali sangat terprovokasi oleh dakwah di masjid atau seruan-seruan di media massa dan sosial, sehingga seringkali mereka melakukan tindakan tanpa memahami seluruh pokok permasalahannya terlebih dahulu. Contohnya adalah kaum tak berotak yang menyerang klenteng di Indonesia untuk membela kaum Rohingya. Selain kaum Buddha di Indonesia sama sekali tidak terkait dengan konflik di Myanmar, mereka memandang masalah Rohingya secara dikotomis: Buddha lawan Islam. Padahal masalahnya jauh lebih kompleks dari itu. Salah satu penyebab Rohingya masih terlunta-lunta adalah pemerintah Bangladesh menolak menerima pengungsi Rohingya. Mereka bahkan mengeluarkan hukum yang secara spesifik melarang orang Rohingya menikah di Bangladesh, agar mereka tidak dapat menggunakannya untuk memperoleh kewarganegaraan.

Myanmar sendiri juga tidak hanya mendiskriminasi kaum Rohingya, tapi juga etnis Karen, Kachin, dan Shan. Konflik internal sudah berkecamuk dari 1948 hingga sekarang. Orang-orang Karen, Kachin, dan Shan telah berusaha memperjuangkan hak dan kemerdekaannya selama puluhan tahun, dan akibatnya nyawa melayang dan ratusan ribu warga terusir dari rumahnya. Tentara Myanmar sendiri didapati menarget penduduk sipil Kachin. Maka jelas akar permasalahannya adalah pada pemerintah Myanmar yang masih tidak akomodatif terhadap minoritas. Namun, tampak jelas Muslim Indonesia tidak (atau gagal) memahami seluruh permasalahannya, dan hanya melihatnya sebagai Islam lawan Buddha, yang jelas ngawur karena banyak orang Karen, Kachin, dan Shan yang juga beragama Buddha.

Hal ketiga yang perlu disorot adalah ke mana kecaman itu dialamatkan. Muslim Indonesia selalu siap mengecam tragedi yang menimpa umat Muslim lain, dari pembantaian Muslim Bosnia oleh ultranasionalis Serbia di Srebrenica hingga rumor pelarangan puasa di Xinjiang. Namun, seperti yang kita telah lihat, mereka gagal memberikan kecaman serupa pada insiden yang menimpa Kachin, Karen, Shan, Darfur, dan Syiah Sampang. Dari sini, tampak jelas bahwa “kepedulian terhadap kemanusiaan” yang mereka gembor-gemborkan tidak lebih adalah kepedulian sektarian belaka, alias hanya peduli terhadap orang yang segolongan dengan mereka saja (yaitu Muslim Sunni). Sebagai contoh, di Ukraina timur, sejauh ini (4 Agustus 2014) lebih dari 1500 orang telah tewas, dan 800 di antaranya adalah warga sipil. Sementara di Gaza, jumlah korban sejauh ini menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa tercatat sebesar 1717 jiwa, dengan 1176 di antaranya merupakan warga sipil. Sekarang mari kita bandingkan secara proporsional berdasarkan perhitungan kasar yang bersifat indikatif. Kepadatan penduduk Gaza 5046 jiwa/km2, sementara kota Donetsk 2700 jiwa/km2 & Luhansk 1802 jiwa/km2 (kalau jumlah penduduk dan luas kedua kota digabung kasarnya menjadi 2300 jiwa/km2). Itu artinya rasio kematian terhadap kepadatan penduduk pada konflik di Gaza itu 34%, sementara di Donetsk dan Luhansk 65,5%. Perbedaan yang sangat signifikan. Dari sini kita dapat melihat bahwa konflik di Ukraina timur lebih mematikan daripada konflik di Gaza. Selain itu, dari perbandingan matematis ini, tentara Israel tampak mampu menahan diri untuk meminimalisasi korban jiwa, meskipun kepadatan penduduk di Gaza amat tinggi. Namun, sekali lagi, kita dapat melihat bahwa di Indonesia tidak ada kecaman sama sekali terhadap konflik di Ukraina. Meskipun begitu, bayangkan kalau pemberontak pro-Rusia di Ukraina itu Muslim, dan Ukraina itu Yahudi. Berdasarkan reaksi Muslim Indonesia terhadap insiden yang menimpa Muslim lainnya, dapat dipastikan bahwa bundaran Hotel Indonesia akan dipenuhi oleh demonstran-demonstran yang menyerukan jihad melawan Ukraina. Di sisi lain, bayangkan bila Israel menyembah dewa Quetzalcoatl, dan Palestina adalah penganut animisme. Melihat kegagalan sebagian besar Muslim Indonesia dalam mengutuk konflik yang menimpa kelompok dari agama atau kepercayaan lain, tampaknya kecaman hanya akan disuarakan oleh mereka yang sungguh peduli pada kemanusiaan.

Berdasarkan tiga observasi di atas, maka tampak jelas bahwa klaim “kepedulian terhadap kemanusiaan” yang disuarakan oleh Muslim Indonesia tidak lebih dari sekadar bias yang bersifat sektarian, yang merupakan hasil provokasi ideologis di tempat ibadah dan media massa dan sosial. Hal ini terlihat secara gamblang dari (1) tindak tanduk yang tampak sangat terprovokasi sehingga tidak memahami duduk permasalahan yang sebenarnya, (2) kegagalan dalam mengutuk insiden yang menimpa umat lain dengan skala dan intensitas yang sama, dan (3) kepedulian yang cenderung hanya memihak kelompok yang sama. Jika mereka memang sungguh peduli terhadap kemanusiaan, maka mereka akan menyuarakan hal yang sama untuk semua perang dan insiden yang mengancam kelompok tertentu, seperti yang dilakukan oleh organisasi-organisasi Hak Asasi Manusia internasional. Namun, karena banyak sekali yang hanya sekadar terprovokasi, maka mata mereka tertutup akan insiden lain dan dukungan yang membabibuta pun bergaung kencang terhadap korban yang seiman meskipun di rumah sendiri ada kaum dari kepercayaan lain yang juga mengalami penindasan.

Maka dari itu, sudah sepatutnya Muslim Indonesia melepaskan diri dari belenggu-belenggu ideologis dan provokatif. Mereka sudah seharusnya mengemban kembali semangat untuk berpikir kritis terhadap segala informasi yang didapat, dan selalu melakukan pemeriksaan dan penyelidikan lebih lanjut terhadap apa yang mereka lihat dan baca, agar mereka tak mudah dibohongi oleh rumor-rumor yang tidak jelas. Selain itu, sudah saatnya Muslim Indonesia bergerak maju, dari bias kemanusiaan yang bersifat sektarian menjadi kepedulian terhadap kemanusiaan yang sesungguhnya, yang meliputi penghormatan terhadap kemartabatan manusia-manusia lain, apapun agama, suku, ras, dan orientasi seksualnya. Hanya dengan inilah, Muslim Indonesia dapat maju melewati tantangan globalisasi. Bila tidak, maka selamanya bangsa kita hanya akan menjadi bangsa yang mudah terprovokasi, bebal, dan tidak memiliki wawasan terhadap apa yang sesungguhnya terjadi.

Komik yang mengilustrasikan tindak tanduk Muslim Indonesia

Dijajah Kemudian Menjajah? Refleksi untuk Semua Bangsa

Kalau mendengar kata Belanda, di benak orang Indonesia seringkali terngiang “dasar penjajah”. Bahkan di preambul UUD 1945 tertulis penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Pertanggungjawaban Belanda pun diminta atas berbagai kejahatan kemanusiaan yang telah dilakukan, seperti pembantaian Westerling di Sulawesi Selatan.

Tapi ujung-ujungnya Indonesia sendiri juga akhirnya merampas hak bangsa lain untuk menentukan nasib sendiri dan melakukan kejahatan manusia bahkan terhadap penduduknya sendiri. Kita bisa lihat, Indonesia menyerbu Timor Leste dan dalam pendudukan (kalau tidak bisa dikatakan penjajahan) selama puluhan tahun membunuh hingga sepertiga rakyat Timor Leste. Begitu hak menentukan nasib mereka ditegakkan, milisi-milisi Indonesia melancarkan kerusuhan dan menghancurkan infrastruktur Timor Leste, mengingatkan kita pada Belanda yang melancarkan “aksi polisionil” (yang kita sebut Agresi Militer). Hak menentukan nasib sendiri Papua sampai hari ini masih diabaikan; PEPERA dicurigai sarat dengan kecurangan dan todongan senjata. Bahkan saat ini terdapat indikasi kuat bahwa sedang terjadi genosida di Papua (http://www.law.yale.edu/documents/pdf/Intellectual_Life/West_Papua_final_report.pdf). Tidak hanya itu, bangsanya sendiri saja juga dibunuhi, seperti ratusan ribu hingga jutaan orang yang dibantai pada tahun 1965-1966, dan sampai sekarang pelaku-pelaku yang terlibat dalam kejahatan-kejahatan kemanusiaan ini masih lenggang kangkung dan bahkan mau dijadikan pahlawan atau calon presiden.

Tidak hanya bangsa Indonesia, bangsa lain yang “dijajah” pun juga ketika memiliki kekuatan akan “menjajah”. Begitu suku Maori mendapatkan senjata dari Britania, mereka menggunakannya untuk menyerang suku-suku Maori lainnya untuk merampas tanah dan harta mereka. Lebih parah lagi, mereka menggunakan senapan itu untuk menyerang bangsa Moriori di Kepulauan Chatham dan melancarkan genosida dan kanibalisme di situ.

Sejarah juga mencatat banyak sekali bangsa yang sebelumnya dijajah, kemudian balik menjajah. Spanyol setelah dijajah bangsa Moor menjajah benua Amerika dan Filipina. Belanda setelah dijajah Spanyol menjajah berbagai wilayah di dunia. Irak setelah dijajah Inggris mencoba menjajah Kuwait. Dan masih banyak lagi.

Saat ini banyak isu-isu tentang neokolonialisme dan ketakutan akan negara adidaya yang dapat melakukan penjajahan lagi. Padahal sudah sepatutnya kita berefleksi: bila Indonesia menjadi adidaya, apakah ada jaminan bahwa Indonesia tidak akan melakukan hal yang sama? Apakah ada jaminan Indonesia tidak akan melakukan campur tangan di negara lain dan mencoba menguasai perekonomian mereka? Apakah ada jaminan Indonesia tidak akan menggunakan militernya untuk merebut wilayah negara lain atau melakukan “intervensi” demi menekankan sphere of influence? Nyatanya, Indonesia sudah pernah melanggar deklarasinya sendiri dalam UUD 1945: penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, tetapi yang dilakukan di Timor Leste dan Papua serupa dengan penjajahan. Hal ini karena pada dasarnya bangsa-bangsa yang punya kekuatan cenderung menyalahgunakannya untuk kepentingannya sendiri.

Maka dari itu sudah sepatutnya yang namanya nasionalisme dan apalagi chauvinisme itu dimusnahkan dari muka bumi ini karena hanya menjadi pemecah belah saja. Secara alamiah, moralitas manusia bersifat “in group”, alias hanya bermoral pada orang pada kelompoknya saja, sehingga kita bisa melihat dalam sejarah banyak bangsa yang dengan mudahnya membantai bangsa lain layaknya simpanse yang menyerang kelompok lain. Maka sudah waktunya kita mentransendensi tempurung “in group” ini dan memperluas definisi in group kita menjadi seluruh umat manusia. Ingat, manusia tinggal di Bumi yang hanya berupa setitik debu bila dibandingkan dengan luasnya Tata Surya (apalagi alam semesta). Setelah menyadari hal ini, sudah sepatutnya kita, daripada saling membunuh untuk mengambil sebagian dari debu yang tak abadi, bersatu dan bekerja sama untuk memajukan peradaban dan menjamin kesejahteraan seluruh umat manusia, dengan sistem penjaminan hak asasi manusia yang efektif. Saya percaya, hal ini bisa dilakukan perlahan-lahan melalui integrasi ekonomi seperti di Uni Eropa. Bayangkan, negara-negara Eropa yang dulunya saling bermusuhan dan berperang dengan sangat hebatnya itu kini tergabung dalam satu blok ekonomi dan politik bersama. Wajar saja jika Uni Eropa memperoleh Hadiah Nobel Perdamaian karena setelah Perang Dunia II integrasi ekonomi dan perdagangan internasional telah membuat negara-negara tersebut saling bergantung, sehingga mengurangi inisiatif untuk melancarkan perang.

Dialog Seorang Professor dengan Muridnya

Dialog seorang profesor dengan muridnya mengenai teodisi atau upaya untuk merekonsiliasi keberadaan Tuhan dengan kejahatan telah menyebar luas di dunia maya. Seorang murid dikisahkan berhasil membantah pernyataan professor yang digambarkan “sombong.” Biasanya di akhir kata ditambahkan embel-embel ” murid itu adalah Albert Einstein”, yang jelas salah karena Einstein tidak percaya Tuhan personal, namun kepada Tuhannya Baruch Spinoza, yaitu keserasian hukum alam. Selain mencatut nama Einstein, dialog ini juga memiliki kesalahan logika yang fatal. Berikut adalah perbaikan untuk dialog tersebut yang diterjemahkan dari http://www.rationalresponders.com/debunking_an_urban_legend_evil_is_a_lack_of_something dengan sedikit adaptasi. Sementara itu, kalau mau lihat kisah aslinya yang ngawur bisa dilihat di http://novrya.blogspot.nl/2011/01/profesor-yang-tidak-punya-otak.html

Alkisah, seorang profesor filsafat menantang muridnya: “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.

Seorang mahasiswa menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”.

“Tuhan menciptakan semuanya?”, tanya professor sekali lagi.

“Ya, Pak, semuanya”, kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, “Nah, ini ada teka-teki logika untuk kalian. Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab pernyataan professor tersebut.

Seorang mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”

“Tentu saja,” jawab si professor, “itulah inti dari diskursus filsafat.”

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”

“Tentu saja,” ungkap si professor. Raut muka si professor tidak berubah karena ia sudah mendengar argumen buruk seperti ini berulang kali.

Si murid menanggapi, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”

Sang professor pun menjawab dengan tegas: “Kamu ingat bab mengenai kesesatan semantik dalam bukumu?”

Si murid tampak bingung.

“Biar saya ulangi secara singkat. “Panas” dan “dingin” adalah istilah subjektif. Menurut John Locke, keduanya merupakan contoh “kualitas sekunder”. Kualitas sekunder merujuk kepada bagaimana kita merasakan suatu fenomena yang memang ada, dan dalam kasus ini pergerakan partikel atomik. Istilah “dingin” dan “panas” merujuk kepada interaksi antara sistem saraf manusia dengan variasi kecepatan dalam partikel atomik di lingkungan. Jadi apa yang sesungguhnya ada adalah suhu… istilah “panas” dan “dingin” hanyalah istilah subjektif yang kita gunakan untuk menjelaskan pengalaman kita mengenai suhu.”

“Maka argumen Anda salah. Anda tidak membuktikan bahwa “dingin” itu tidak ada, atau bahwa “dingin” ada tanpa status ontologis, apa yang Anda lakukan adalah menunjukkan bahwa “dingin” adalah istilah subjektif. Hapuskanlah konsep subjektif tersebut, dan suhu yang kita sebut “dingin” akan tetap ada. Menghapuskan istilah yang kita gunakan untuk merujuk kepada suatu fenomena tidak menghapuskan keberadaan fenomena tersebut.”

Murid: (agak shock) “Uh… oke… em, apakah gelap itu ada?”

Professor: “Anda masih mengulangi kesesatan logika yang sama, hanya kualitas sekundernya yang diganti.”

Murid: “Jadi menurut professor kegelapan itu ada?”

Professor: “Apa yang saya katakan adalah bahwa Anda mengulangi kesesatan yang sama. “Kegelapan” adalah kualitas sekunder.”

Murid: “Professor salah lagi. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. “Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

Professor: “Gelap dan terang” adalah istilah subjektif yang kita gunakan untuk mendeskripsikan bagaimana manusia mengukur foton atau partikel dasar cahaya secara visual. Foton itu memang ada, sementara “gelap” dan “terang” hanyalah penilaian subjektif kita… yang sekali lagi terkait dengan interaksi antara sistem saraf manusia dengan fenomena alam yang lain, yaitu foton. Jadi, sekali lagi, hapuskanlah istilah subjektif itu dan foton akan tetap ada. Jika manusia menyebut “foton sebanyak x” sebagai “gelap” sementara kucing menyebutnya “cukup terang untukku”, foton sebanyak x yang kita sebut sebagai “gelap” tetap ada, dan akan tetap akan ada walaupun kita tidak menyebutnya gelap. Sudah paham, atau masih kurang jelas?”

Sang murid tampak tercengang.  Sang professor berkata, “Tampaknya Anda masih bingung dengan kesesatan dalam argumen Anda. Tapi silakan lanjutkan, mungkin Anda akan paham.”

Sang murid berkata, “Professor mengajar dengan dualitas. Professor berargumen tentang adanya kehidupan lalu mengajar tentang adanya kematian, adanya Tuhan yang baik dan Tuhan yang jahat. Professor memandang Tuhan sebagai sesuatu yang dapat kita ukur.”

Professor langsung memotong, “Berhati-hatilah. Jika Anda menempatkan Tuhan di luar jangkauan nalar, logika dan sains dan membuatnya “tak terukur”, maka yang tersisa hanyalah misteri yang Anda buat sendiri. Jadi jika Anda menggunakan dalih bahwa Tuhan ada di luar jangkauan untuk menyelesaikan masalah, Anda juga tak bisa mengatakan bahwa Tuhan Anda bermoral. Bahkan Anda tak bisa menyebutnya sebagai apapun kecuali tak terukur. Jadi solusi Anda tidak ada bedanya dengan membersihkan ketombe dengan memangkas rambut.”

Murid tersebut tercengang, namun tetap berusaha melanjutkan, “Professor, sains bahkan tidak dapat menjelaskan sebuah pemikiran. Ilmu ini memang menggunakan listrik dan magnet, tetapi tidak pernah seorangpun yang melihat atau benar-benar memahami salah satunya..”

Professor: “Anda mengatakan bahwa sains tak bisa menjelaskan pikiran. Saya sendiri kurang paham apa yang Anda maksud. Apakah Anda mencoba mengatakan bahwa masih banyak misteri dalam neurosains?”

Murid: “Begitulah.”

“Dan bahwa pikiran, listrik dan magnetisme itu kita anggap ada walaupun tak pernah kita lihat?”

“Benar!”

Sang professor tersenyum dan menjawab, “Bukalah kembali bukumu mengenai kesesatan false presumption. Perhatikan bab “kesalahan kategoris.” Kalau Anda pernah membacanya, Anda akan ingat bahwa kesalahan kategoris adalah saat Anda menggunakan tolak ukur yang salah untuk suatu entitas, misalnya menanyakan warna dari suara. Meminta seseorang melihat magnetisme secara langsung merupakan kesalahan kategoris.”

“Namun, masih ada kesalahan lain dalam argumen Anda. Anda berasumsi bahwa empirisisme atau bahkan sains hanya didasarkan kepada pengamatan langsung. Ini tidak tepat. Penglihatan bukanlah satu-satunya cara untuk memahami dunia, dan sains juga bukan ilmu yang mempelajari apa yang kita lihat. Kita dapat menggunakan indera lain untuk melacak suatu fenomena. Dan kita juga dapat mempelajari pengaruh fenomena tersebut terhadap dunia.”

“Lebih lagi, Anda kembali melakukan kesalahan dengan menyatakan bahwa karena sains itu belum lengkap berarti Tuhan itu ada. Mungkin Anda perlu mempelajari kembali kesesatan “argumentum ad ignoratiam” atau argumen dari ketidaktahuan.”

“Dan juga, seperti yang dikatakan oleh Neil deGrasse Tyson, gunakanlah contoh yang lebih baik karena sains sudah mampu menjelaskan bagaimana pikiran terbentuk dan bahkan Maxwell sudah lama menggabungkan elektrisme dan magnetisme menjadi elektromagnetisme. Contoh yang lebih baik itu misalnya materi gelap yang membuat perluasan alam semesta menjadi begitu cepat. Fisikawan tak bisa menjawab itu, dan mungkin Anda akan mengatakan jawabannya Tuhan. Namun dengan begitu, Anda justru sedang menyusutkan Tuhan. Anda melakukan kesesatan ad ignoratiam bahwa yang belum dijelaskan sains itu adalah keajaiban Tuhan, dan itu berarti Anda menempatkan Tuhan untuk mengisi gap dalam sains. Nah, dahulu manusia juga tak mampu menjawab mengapa hujan terbentuk atau mengapa gunung meletus, dan orang-orang dulu menyebutnya karena Tuhan. Kini kita sudah memahami hujan dan gunung meletus, begitu pula pikiran, listrik dan magnetisme, dan ke depannya materi gelap juga mungkin akan kita pahami. Dengan begitu Tuhan yang mengisi gap pun terus menciut.”

“Masih ada yang mau ditambahkan? Apakah penjelasan saya sudah cukup jelas?”

Sang murid tampak bingung dan mencoba melakukan ad nauseam, “Em…  kembali ke diskusi awal kita. Untuk menilai kematian sebagai kondisi yang berlawanan dengan kehidupan sama saja dengan melupakan fakta bahwa kematian tidak bisa muncul sebagai suatu hal yang substantif. Kematian bukanlah kontradiksi dari hidup, hanya ketiadaan kehidupan saja.”

Professor pun berkata, “Apakah Anda jatuh cinta dengan kesesatan kualitas sekunder? Lagi-lagi Anda melakukan kesalahan yang sama.” “Kematian” dan “kehidupan” adalah istilah subjektif yang kita gunakan untuk menjelaskan fenomena keadaan-keadaan biologis. Menghapuskan istilah subjektif kematian tidak menghapuskan keberadaan kematian.

Si murid pun mencoba mengalihkan pembicaraan, “Apakah imoralitas itu ada?”

Si professor menggelengkan kepalanya dan berkata, “Keledai pun tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama. Ada yang masih kurang jelas, atau perlu saya ulangi lagi?”

Sang murid yang terus berusaha menjustifikasi kepercayaannya berkata, “Begini.. imoralitas itu adalah ketiadaan moralitas. Apakah ketidakadilan itu ada? Tidak. Ketidakadilan adalah ketiadaan keadilan. Apakah kejahatan itu ada? Bukankah kejahatan itu ketiadaan kebaikan?”

Sang professor menanggapi, “Jadi, jika seseorang membunuh ibumu malam ini, tidak terjadi apa-apa? Hanya ada ketiadaan moralitas di rumah Anda? Tunggu… dia tidak mati… cuma ketiadaan hidup kan?”

Si murid berkata, “eh…”

“Sekarang sudah mengerti di mana salahnya?”, ujar sang professor, “Anda mencampur kualitas sekunder dengan fenomena. “Imoralitas” adalah istilah deskriptif untuk perilaku. Istilah tersebut bersifat sekunder, namun perilaku tetaplah ada. Jadi jika Anda menghapuskan kualitas sekunder itu, Anda tidak menghapuskan perilaku yang sesungguhnya terjadi. Dengan mengatakan imoralitas sebagai ketiadaan moralitas, Anda tidak menghapuskan keinginan atau perilaku imoral, tetapi hanya istilah subjektifnya. Begitu lho.”

Si murid masih kukuh, “Apakah professor pernah mengamati evolusi itu dengan mata professor sendiri?”

Sang professor sudah bosan mendengar argumen “pernah lihat angin tidak”.

“Evolusi itu bisa diamati karena hingga sekarang masih berlangsung. Misalnya, pada tahun 1971, beberapa kadal dari pulau Pod Kopiste di Kroasia dipindah ke pulau pod Mrcaru. Pulau Pod Kopiste tidak banyak tumbuhan sehingga memakan serangga, sementara di pulau Pod Mrcaru ada banyak tumbuhan. Setelah ditinggal selama beberapa dekade, ketika ditemukan kembali, kadal di pulau Pod Mrcaru mengalami proses evolusi. Kadal tersebut mengembangkan caecal valve, yaitu organ yang penting untuk mengolah selulosa dalam tumbuhan, yang sebelumnya tidak ada. Atau, jika Anda pergi ke laboratorium Richard Lenski di Amerika Serikat, Anda bisa saksikan sendiri bagaimana bakteri e coli yang sebelumnya tak bisa mengolah asam sitrat, karena evolusi dengan seleksi alam muncul e coli yang bisa mengolah asam sitrat.”

“Lagipula, Anda lagi-lagi terjeblos dalam kesesatan ad ignoratiam. Jika ingin konsisten dengan logika Anda, Anda akan mengatakan bahwa pohon tidak pernah tumbuh karena Anda tak pernah melihat langsung bagaimana pohon tumbuh. Lebih lagi, Anda kembali melakukan kesalahan dengan mengasumsikan bahwa sains itu hanya terdiri dari pengamatan langsung…. “

Si murid memotong, “Apakah ada dari kelas ini yang pernah melihat otak Profesor? Apakah ada orang yang pernah mendengar otak Profesor, merasakannya, menyentuhnya atau menciumnya? Tampaknya tak seorang pun pernah melakukannya. Jadi, menurut prosedur pengamatan, pengujian dan pembuktian yang disahkan, ilmu pengetahuan mengatakan bahwa professor tidak memiliki otak. Dengan segala hormat, bagaimana kami dapat mempercayai pengajaran professor?”

Si professor tertawa dan menjawab, “Terima kasih sudah hadir di kelas ini sehingga saya bisa membenarkan kesalahan Anda walaupun Anda terus menerus mengulanginya. Sekali lagi, sains itu tidak terbatas kepada “melihat” sesuatu. Sains itu juga rasional. Kita dapat menyimpulkan berdasarkan bukti yang ada. Dan salah satu simpulan yang dapat saya tarik dengan mengamati perilaku Anda  hari ini adalah bahwa Anda telah membuang-buang uang karena tidak membaca buku logika yang sudah Anda beli. Jadi saya sarankan bacalah buku itu kembali dari halaman satu agar tidak terus menerus mengulangi kesalahan yang sama.”

– Dan murid itu adalah orang yang tidak banyak membaca…

Pendapat Jinasena dari kepercayaan Jain mengenai konsep penciptaan

Berikut adalah pendapat Jinasena dari abad ke-9 mengenai konsep penciptaan dalam karyanya, Mahāpurāna :

“Beberapa orang bodoh memproklamirkan bahwa dunia ini diciptakan. Doktrin bahwa dunia ini diciptakan merupakan sesuatu yang keliru dan patut ditolak. Jika Tuhan menciptakan dunia, maka di mana dia sebelum penciptaan? Jika Anda katakan ia transenden dan tak perlu tumpuan, maka di mana dia sekarang? Bagaimana bisa Tuhan menciptakan dunia ini tanpa bahan mentah? Jika Anda mengatakan bahwa ia membuat bahan itu dulu, dan baru dunia, Anda dihadapi oleh regresi yang tiada akhir. Jika Anda memproklamirkan bahwa bahan dasar ini muncul sendiri Anda mengalami kesesatan karena dengan itu maka alam semesta menciptakan dirinya sendiri dan muncul secara alami. Jika Tuhan menciptakan dunia atas kehendaknya, tanpa bahan dasar apapun, maka itu hanyalah kehendaknya dan bukan apa-apa – dan siapa yang akan memercayai omong kosong ini? Jika ia memang pernah sempurna dan lengkap, bagaimana bisa kehendak untuk menciptakan muncul? Jika, di sisi lain, dia tidak sempurna, maka ia tak mampu membuat alam semesta lebih baik daripada seorang pengrajin. Jika ia tak berbentuk, tak bertindak dan merangkul semua, maka bagiamana caranya ia menciptakan dunia? Jiwa semacam itu, yang tanpa moralitas sama sekali, tidak akan punya keinginan untuk menciptakan apapun. Jika ia sempurna, ia tidak berjuang untuk tiga tujuan manusia, lalu untuk apa dia menciptakan alam semesta? Jika Anda katakan bahwa ia tidak punya tujuan karena itu sifatnya, maka Tuhan itu tak ada artinya. Jika ia menciptakannya untuk kesenangan, maka itu adalah kesenangan anak bodoh yang menimbulkan masalah. Jika ia menciptakan karena karma makhluk berwujud (yang didapat dari penciptaan sebelumnya) Ia tidak mahakuasa, namun lebih rendah dari sesuatu. Jika ia menciptakan dunia karena kecintaan akan makhluk hidup dan butuh mereka untuk menciptakan dunia, kenapa ciptaan tidak lepas dari kemalangan? Jika ia transenden ia tidak akan menciptakan karena ia akan bebas: maupun jika ia terlibat dalam perpindahan karena dengan itu ia tidak mahakuasa. Maka doktrin bahwa dunia diciptakan oleh Tuhan tidak masuk akal sama sekali, dan Tuhan telah sungguh berdosa karena membunuh anak-anak yang ia ciptakan sendiri. Jika Anda mengatakan bahwa ia membunuh hanya untuk menghancurkan makhluk jahat, lalu kenapa dia menciptakan makhluk seperti itu dari awal? Orang yang baik harus menentang orang yang percaya akan penciptaan yang dibutakan oleh doktrin jahat. Ketahuilah bahwa dunia ini tak tercipta, seperti waktu, tak berawal dan tak berakhir, dan didasarkan kepada asas kehidupan dan peristirahatan. Tak tercipta dan tak dapat dimusnahkan, alam semesta ada dengan sifatnya sendiri.”